
Nama : Wiranto
Lahir : Yogyakarta, 4 April 1947
Istri : Uga Usman
Anak : 3
Hobi : Badminton
Organisasi: GABSI dan FORKI
Pendidikan:
1. Sarjana Ilmu Politik Universitas Terbuka, 1995
2. Sarjana Hukum dari. STHM, 1996
3. AMN Magelang, 1968
4. Alumni Lemhanas Terbaik 1995
Karier:
1. Ajudan Presiden 1989-1993
2. Kasdam Jaya 1993
3. Pangdam Jaya 1994
4. Pangkostrad, 1996
5. Kasad,1997
6. Menhankam Pangab 1998
7. Menkopolkam, 1999.
Sumber: Erwin M Patanjengi, Ketua Korda dan Media Centre DPP Hanura.(har)Ketahanan Pangan MasihRapuhMASALAH kemiskinan ternyata masih terus membelit bangsa ini. Bahkan, Sulsel yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan justru dikagetkan dengan meninggalnya warga akibat tidak pernah makan dalam tiga hari. Praktis, kabar memilukan itu menghebohkan warga di seluruh negeri ini. Ramai-ramailah mereka yang selama ini memproklamirkan diri sebagai pemerang kemiskinan datang menjenguk. Tidak terkecuali,
Wiranto yang akhir-akhir ini memang aktif mengiklankan diri sebagai orang yang akan mewakafkan dirinya untuk memerangi kemiskinan. Rabu 12 Maret, Wiranto secara khusus berkunjung ke kediaman Dg Basse (almarhum) dan menjenguk Aco di panti asuhan. Di sela-sela kunjungan itu, dan usai makan siang di RM Istana Laut, Fajar berkesempatan mewawancarai Wiranto. Berikut penuturannya yang disarikan Wartawan Fajar, Baharuddin Moenta:
Seberapa besar masalah kemiskinan masih membelit bangsa ini?Kita jangan bicara angka atau persentase. Sebab, kemiskinan itu adalah masalah yang paling mendasar. Semua negara berlomba-lomba untuk mensejahterakan bangsanya dan berlomba mengentaskan kemiskinan. Jadi, jangan bicara angka, karena kalau bicara angka, nanti ada perdebatannya di masalah angka itu. Sebab, kita tidak ingin mendebatkan angkanya, tetapi bagaimana kita mencari solusi, sebagai bangsa mampu untuk mengentaskan kemiskinan sebagian warga kita yang sampai saat ini masih menderita apa yang disebut kemiskinan permanen itu.
Indonesia ini sudah puluhan tahun merdeka, apa tidak seharusnya persoalan kemiskinan ini sudah selesai?Yah, kenyataannya memang begitu setelah 62 tahun kita merdeka. Saya bicara fakta saja, karena justru saya ingin buktikan di lapangan, makanya saya kemari, supaya bisa langsung mendapat masukan-masukan di lapangan, melihat, merasakan. Bagaimana keadaan masyarakat miskin di Indonesia, terutama di Sulsel ini dalam menghidupi keluarganya, dalarn menjalani kehidupannya. Saya langsung bertatap muka, langsung bicara dari hati ke hati. Saya ingin mendapat masukan yang instan yah, langsung lihat.
Untuk apa?Untuk menjadi bahan bagi saya melanjutkan perjuangan dan teman-teman untuk mengurangi kemiskinan itu.
Sejauh mana Anda melihat komitmen pemerintah hingga saat ini dalam memerangi kemiskinan?Saya tidak ingin saling menyalahkan. Mencari kambing hitam. Pemerintah barangkali sudah menempuh langkah-langkah untuk menanggulangi kemiskinan. Terbukti, sudah banyak kebijakan yang dilakukan dalam rangka mengurangi jumlah kemiskinan.
Tapi kenyataannya, sampai scat ini, kemiskinan belum tertanggulangi secara signifikan. Tentunya membutuhkan strategi baru. Strategi yang lebih menggigit, yang lebih fokus, yang lebih berani, yang lebih tegas untuk memerangi kemiskinan itu.
Bagaimana harusnya kemiskinan itu disikapi?Sebenarnya, saya sebagai bagian dari elemen bangsa akan sangat gembira kalau kita bersatu, bersama-sama pemerintah menanggulangi masalah kemiskinan itu. Sebab, sebenarnya, yang punya infrastruktur, yang punya dana, yang punya kewenangan dan otoritas itu adalah pemerintah. Nah, kalau pemerintah membangun suatu strategi baru yang didukung dan diperkuat berbagai elemen masyarakat, itukan hebat. Menurut saya, untuk memperbaiki bangsa ini perlu gerakan. Gerakan masuk ke kebijakan Negara. salah satunya yakni melalui rekrutmen pemimpin nasional.
Ada iklan Anda di televisi terkait kesiapan mewakakafkan diri untuk memerangi kemiskinan. Kenapa sampai demikian?Itu sudah menjadi keikhlasan saya. Sebab Allah SWT sudah memberi saya lebih dari yang saya minta. Sebagai anak seorang guru, saya dulu hanya berharap bisa bekerja lebih baik dari orang tua saya. Tapi ternyata Tuhan memberi lebih dari itu. Saya pernah jadi Pangab dan seterusnya. Oleh karena itu, ke depan, saya tidak lagi akan meminta. Tapi saya akan memberi. Sekarang ini, saya sudah memiliki popularitas, network, dan lainnya. Insya Allah semua itu akan saya gunakan kembali untuk rakyat.
Setelah menyaksikan kondisi keluarga DgBasse (alm), apa komentar Anda?Saya datang kemari memang karena ingin melihat saudara-saudara kita yang terkena musibah karena miskinnya mereka. Dan hari ini, menemui keluarga almarhumah Dg Basse yang meninggal beberapa waktu lalu karena memang sudah tidak bisa makan dan membawa kandungannya yang juga sudah tidak bisa diselamatkan. Hari ini, saya menemui Basri dan tiga anaknya yang dititipkan di beberapa tetangga dan Aco yang dititip di panti asuhan. Kedatangan saya memang ingin memberikan hiburan agar suami Dg Besse lebih tabah karena masih harus memelihara tiga anak, sebagai seorang tukang becak, harus menghidupi tiga anak. Sekaligus, saya juga ingin membuka mata hati kita sekalian bahwa masih banyak ternyata saudara-saudara kita seperti ini. Ini hanya contoh dari sekian banyak saudara kita yang menderita kemiskinan seperti ini. Oleh karena itu, jangan sampai ada satu persepsi lain bahwa kalau kita membantu orang miskin, punya tujuan-tujuan lain. Tidak ada itu.
Anda datang ini sebagai orang Partai Hanura atau pribadi?Saya datang sebagai personal yang mengajak saudara-saudara kita yang lain. Marilah kita bersama-sama membantu saudara-saudara kita yang menderita seperti ini. Masih banyak. Tapi masih lebih banyak orang kaya yang sebenarnya jika bersama-sama membantu untuk menanggulangi kemiskinan, barangkali kemiskinan itu tidak akan ada lagi di Indonesia. Karena jumlah yang miskin dibanding yang kaya, lebih banyak yang kaya.
Apakah kendatangan Anda itu bisa jadi solusi?Kembali lagi, kita jangan salah menyalahkan. Kenyataannya memang masih jutaan warga kita yang menderita kemiskinan dan menganggur. Mari sama-sama mencari solusi. Kedatangan saya ke sini juga dalam rangka mendapat masukan. Langsung saya ingin melihat apa yang terjadi di daerah ini. Kenapa sampai ada daerah di tengah kota seperti ini, Kecamatan Tamalate yang sebagian kampungnya dihuni oleh masyarakat yang tidak bisa makan. Dari masukan inilah nanti tentunya kita akan mendapatkan solusi bersama, bagaimana secara nasional bisa memberikan suatu saran, masukan, pemikiran ke pemerintah untuk secepatnya bisa mengatasi kemiskinan.
Menurut Anda, tragedi yang menimpa keluarga Aco ini seharusnya dimaknai seperti apa?Pertama hikmahnya bahwa kebersamaan kita sebagai bangsa yang dulu pernah kita miliki perlu dibangun kembali. Bagaimana mungkin di suatu daerah tengah kota ada daerah atau kantong kemiskinan di mana warganya sampai sulit mencari makan. Ini kan menunjukkan bahwa kebersamaan kita sudah mulai ada degradasi. Ini perlu dibangun kembali.
Kedua, kasus ini mengisyaratkan bahwa apa yang dialami keluarga Dg Basse almarhumah dan keluarga Basri tidak sendirian. Masih banyak keluarga seperti itu yang bertebaran di seluruh wilayah nusantara. Makanya perlu kepedulian kita bersama untuk mengentaskan kemiskinan ini. Jangan hanya kita menyalahkan pihak tertentu.
Alasannya?Tidak mungkin pemerintah mampu sendirian menyelesaikan masalah seperti ini. Pemerintah hanya bisa membangun kebijakan barn yang lebih tegas, lebih fokus untuk bersama-sama dengan elemen masyarakat memerangi kemiskinan ini.
Sulsel ini kan dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Apakah status itu perlu dievaluasi?
Yang pasti, kejadian ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan kita masih sangat rapuh. Karena itu, harus ada kebijakan makro supaya bisa lebih baik. Banyak hal yang perlu dilakukan. Dan itu tadi, perlu kebijakan yang fokus. (Baharuddin@fajar.co.id)